Sabtu, 14 Oktober 2017

Perbedaan Huruf Serif dan Sans Serif

Serif adalah jenis huruf yang memiliki kait pada bagian ujung goresan (strokes). Sering juga disebut huruf Roman, mengacu pada sejarah awalnya yang digunakan oleh bangsa Romawi.
Huruf serif banyak dipakai pada cetakan tradisional atau buku bacaan berhuruf kecil, karena serif atau kait di ujung huruf berfungsi menjadi semacam garis imajiner yang membantu mata pembaca menelusuri baris teks. Contoh huruf jenis ini adalah Times New Roman dan Courier.
Sebaliknya, sans-serif adalah huruf tanpa kait. (sans, perancis: tanpa). Contoh huruf jenis ini adalah Arial dan Helvetica.
Beberapa tahun lalu, saya membaca cerita ini. Sebuah perusahaan berhasil menghemat ribuan dolar pengeluaran tahunannya hanya dengan mengubah sedikit kebiasaan.

Senin, 25 September 2017

Bahan Bacaan Menarik dan Gratis

Di zaman internet ini belajar menjadi sangat murah. Berbagai sumber menarik dan gratis:
(1)
https://alison.com/
Kursus online dengan diploma: kursus bahasa, membuat web, psikologi, project management dll.
(2)
www.blinklist.com
Anda bisa baca ringkasan buku-buku terbaru dari berbagai topik, bisa dibaca di telepon genggam Anda.
(3)
http://blogs.hbr.org
Blog dari Harvard Business Review yang memberi tips praktis dari top business leaders yang bisa Anda terapkan.
(4)
www.coursera.org

Jumat, 15 September 2017

Innovator Dilema

Nokia dahulu menyebut Android sebagai semut kecil merah yang mudah digencet dan mati. Arogansi dan rasa percaya diri yang berlebihan membuat Nokia terjebak dalam innovator dilema. Sejarah mencatat, yang kemudian mati justru Nokia – tergeletak kaku dalam kesunyian yang perih.
Kodak menyebut kamera digital hanyalah tren sesaat, dan kamera produksi mereka akan terus bertahan. Kodak terjebak halusinasi dan innovator dilema yang akut. Akibatnya, ruangan ICU yang pengap menanti raga mereka yang merintih kesakitan.
Micorosoft & Intel (Dominasi yang dahulu dikenal dengan duo Wintel) terlalu menikmati kekuasannya dalam dunia PC dan Laptop, dan pelan-pelan terjebak dalam innovator dilema. Mereka terbuai dengan kekuasaannya, dan lengah betapa dramatis kecepatan kemajuan era mobile computing. Kini era PC/Laptop sudah hampir berakhir, diganti era mobile smartphone. Dan hegemoni Microsoft serta Intel kian menjadi tidak relevan dalam era smartphone. Intel dan Microsoft lalu hanya duduk saling bertatapan mata, diam dan termangu. Dalam rasa penyesalan yang pedih dan pahit. Namun dalam bisnis, penyesalan tidak pernah mendapat tempat terhormat.
Meski masih berkuasa, keuntungan Wintel terus berkurang tiap tahun.

Kamis, 14 September 2017

We Train Our Children For The Jobs That Don't Exist Yet Now–Building Learning Agility For Our Next Generation

Kita mendidik anak-anak kita untuk pekerjaan yang sekarang belum ada

.
Kadang-kadang saya cemburu dengan kakak-kakak saya. Mereka semua menjadi dokter. Dan saya masih ingat betapa mudahnya mereka menjelaskan pekerjaan mereka ke nenek saya di Magetan.
Saya memulai karier saya sebagai "artifical intelligence programmer".
Dan bayangkan bagaimana saya harus menjelaskan apa yang saya lakukan kepada nenek saya atau orang tua saya ketika mereka bertanya, "Gaweyanmu kae opo?" (What do you do for living?)
But perhaps this is life. Hidup berganti begitu cepat, bisnis is changing also so fast. Dan species yang paling sukses bukanlah yang paling kuat atau paling cerdas, tapi yang mampu beadaptasi dengan perubahan.
A lot of jobs we do now, did not even exist some years ago.
Banyak pekerjaan yang kita lakukan sekarang, memang belum ada pada jaman dulu.
Saya yakin pekerjaan seperti digital advertising, social media recruiter, actuaria, underwritter, big data analyst belum ada pada jaman orang tua kita (atau bahkan pada saat kakak-kakak kita belanja di Aldiron Plaza).
Dan kesimpulan yang sama bisa kita tarik bahwa job yang akan dilakukan anak anak kita nanti belum ada pada hari ini.
We dont even know the job that they will do in the future after they graduate from their university.
Padahal mereka harus kita didik, kita latih, kita educate sekarang.
Jadi bagaimana dong?